Selasa, 01 Desember 2015

Masjid Raya Al-Mashun Medan



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah   
          Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang paling banyak mayoritas nya beragama Islam. Banyak sekali bangunan atau tempat Ibadah (Masjid) umat Muslim di Indonesia salah satu nya Masjid Raya Al-mashun. Masjid Raya Al-Mashun ini terletak di Provinsi Sumatera Utara tepat nya di Kota Medan. Masjid Raya Al-Mashun merupakan salah satu masjid yang di bangun berdekatan dengan Istana Kesultanan Deli atau Istana Mai Moon. Selain sebagai bukti sejarah, masjid ini juga sering di kunjungi oleh para wisatawan. Arsitektur nya yang megah dan anggun  membuat masjid ini terlihat megah di mata para pengunjung. Ukiran-ukiran nya yang sangat bagus menjadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung dan membuat masjid ini terlihat megah.

B.     Rumusan Masalah
Dari uraian Latar Belakang Masalah di atas, maka timbul permasalahan sebagai berkut:
1.Bagaimana sejarah dan perkembangan masjid raya al-mashun?                                                                   
2. Apa saja arsitektur yang ada dalam masjid al-mashun?
3. Bagaimana cerita tentang masjid al-mashun?

C.     Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah dan perkembangan masjid raya al-mashun
2. Untuk mengetahui arsitektur masjid raya al-mashun
3. Untuk mengetahui cerita masjid al-mashun

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Dan Perkembangan Masjid Raya Al –Mashun
Di tahun 1728 Tuanku Panglima Pasutan memindahkan pusat kerajaan dari Padang Datar,ke Kampung Alai (Labuhan Deli) Tercatat enam Sultan Deli yang pernah bertahta di Istana Kerajaan Melayu Deli di Labuhan Deli, sejak dari Sultan Deli ke 4 hingga Sultan Deli ke-9. Masjid Al Osmani yang merupakan masjid Kesultanan bagi Kesultanan Deli dibangun sejak masa pemerintahan Sultan Osman Perkasa Alam (Sultan ke-8) masih berdiri kokoh hingga kini menjadi saksi sejarah kesultanan Melayu Deli. Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam (Sultan Deli ke-9) kemudian memindahkan kembali ibukota kerajaan ke daerah Padang Datar (pusat kota medan). Pemindahan kembali ibukota kerajaan terebut dilakukan setelah Kerajaan Melayu di Labuhan Deli dikuasai Belanda, ketika Sultan Mahmud Perkasa Alam (sultan Deli ke-8) terpaksa memberikan sebagian daerahnya menjadi tanah konsesi kepada penjajah Belanda pada tahun 1863 untuk ditanami tembakau Deli. Di ibukota pemerintahan baru ini Kesultanan Deli berkembang pesat, setelah Deli lepas sama sekali dari Kesultanan Aceh dan Kesultanan Siak Sri Indrapura pada 1861. Meski masih dalam bayang-bayang pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam kemudian membangun Istana Maimun pada 26 Agustus 1888 dan selesai 18 Mei 1891.
Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam memulai pembangunan Masjid Raya Al Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H) sekaligus digunakan ditandai dengan pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini. keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Sultan memang sengaja membangun mesjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan, namun konon Tjong A Fie, tokoh kota medan dari etnis Thionghoa yang sejaman dengan Sultan Ma’mun Al Rasyd turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini.


Pada awalnya Masjid Raya Al Mashun di rancang oleh Arsitek Belanda Van Erp yang juga merancang istana Maimun, namun kemudian proses-nya dikerjakan oleh JA Tingdeman. Van Erp ketika itu dipanggil ke pulau Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi candi Borobudur di Jawa Tengah. Sebagian bahan bangunan diimpor antara lain: marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia, Jerman dan kaca patri dari Cina dan lampu gantung langsung dari Prancis.
Mesjid Raya sedikit berbeda dengan masjid pada umumnya karana tidak banyak kaligrafi sini namun banyak terdapat ukiran bunga dan tanaman yang keseluruhanya di cat. Masjid Raya Al Mashun atau Masjid Raya Medan atau kadang juga disebut Masjid Raya Deli, merupakan salah satu dari dua masjid yang pernah menjadi Masjid resmi kesultanan Deli pada masa jayanya. Masjid Raya Al Mashun juga merupakan masjid tertua ke tiga di kota Medan setelah Masjid Al Osmani di Labuan Deli yang juga merupakan masjid kesultanan Deli yang pertama dan Masjid Lama Gang Bengkok di Jalan Masjid Kesawan. Al-Mashun yang berarti ‘dipelihara’, sesuai namanya hingga kini masih terpelihara dan terawat dengan baik. Tidak heran, karena masjid ini di masa silam merupakan Masjid Negara pada masa jayanya Kesultanan Melayu Deli, lokasinya berdiri hanya terpaut sekitar 200 meter dari Istana Maimun yang merupakan Istana kesultanan Deli. Masjid yang menjadi identitas kota Medan ini, memang bukan sekedar  bangunan antik bersejarah saja, tetapi juga menyimpan keunikan tersendiri mulai dari gaya arsitektur, bentuk bangunan, kubah, menara, pilar utama, hingga ornamen-ornamen kaligrafi yang menghiasi bangunan masjid ini. Masjid raya al-mashun Medan ini banyak di kagumi orang karena bentuk nya yang unik. Dan masjid raya al-mashun ini merupakan masjid termegah di kota Medan.







2.2 Arsitektur Masjid Raya Al-Mashun
JA Tingdeman, sang arsitek merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa dan Melayu dan Timur Tengah. Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak seperti masjid masjid kebanyakan. Di ke empat penjuru masjid masing masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing masing beranda dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.
Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara. Ruang utama, tempat sholat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar. Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan art nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam. Seluruh ornamentasi di dalam mesjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan. di depan masing-masing beranda terdapat tangga. Kemudian, segi delapan tadi, pada bagian luarnya tampil dengan empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang sholat utama.
Gang-gang ini punya deretan jendela-jendela tak berdaun yang berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri di atas balok. Baik beranda dan jendela-jendela lengkung itu mengingatkan disain bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan. Sedangkan kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas masing-masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk kubahnya mengingatkan kita pada Mesjid Raya Banda Aceh. Di bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing. Gerbang mesjid ini berbentuk bujur sangkar beratap datar. Sedangkan menara mesjid berhias paduan antara Mesir, Iran dan Arab.



2.3  Cerita Masjid Al-Mashun
Ada satu tradisi lisan yang menyebutkan bahwa Sultan Delhi biasanya sudah berada di ruangan serambi sebelum salat jum’at di mulai, sementara tidak ada satupun orang yang melihat Sultan Delhi masuk ke dalam masjid dari arah luar, sehingga ada dugaan yang menyebutkan bahwa  di ruangan serambi terdapat sebuah jalan menuju terowongan menghubungkan mesjid Raya Al-Mashun ke Istana Maimoon. Hal menarik yang harus di kaji kebenaran nya yaitu di ruangan serambi terdapat sebuah lubang berbentuk persegi yang di beri penutup yang terbuat dari beton. Beberapa orang menyebutkan bahwa lubang itu dulunya adalah jalan masuk menuju terowongan bawah tanah  yang masih menjadi misteri keberadaa nya. Sampai saat ini belum ada yang meneliti lebih dalam lagi mengenai sebuah lubang yang berada di Masjid Al-Mashun ini, Hal ini karena izin untuk meneliti lubang itu sulit di dapatkan karena ada kemungkinan bahwa Masjid Al-Mashun ini dilindungi oleh situs bersejarah.
Secara tradisi turun temurun keluarga Sultan sangat berperan dalam pengelolaan masjid ini. Sejak era kemerdekaan, pemerintah kota Medan mengambil andil dalam perawatan dan pengelolaan masjid. Pengurus masjid sangat ketat menjaga masjid ini termasuk menjaga keaslian bangunan dengan tidak sembarangan melakukan perbaikan apalagi perombakan mengingat material yang dipakai untuk membangun masjid ini memang dari bahan bahan pilihan yang kini tidak mudah untuk didapatkan.
Pada bulan Ramadhan, suasana di Masjid Raya ini menjadi jauh lebih semarak dibanding hari-hari biasa. Kegiatan ibadah tidak hanya berlangsung siang hari, melainkan juga malam hari hingga menjelang waktu sahur. Siang disisi dengan kegiatan muzakarah, diskusi tentang hukum sya’ri Islam, ceramah Ramadhan, dan berbagai kegiatan pengkajian Islam lainnya. Pada malam hari kegiatannya berupa shalat Tarawih dan Tadarrus Al-Qur’an hingga larut malam hingga sampai dini hari saat sahur tiba. Selain itu, untuk menghidupkan suasana di komplek masjid, pengurus juga menyiapkan makanan bukaan setiap sore dari sumbangan para dermawan dan masyarakat sekitar masjid. Makanan berbuka yang disiapkan hingga 300 - 500 orang tersebut khusus bagi anak-anak yatim, gelandangan, dan kaum musafir yang jauh dari rumahnya saat waktu berbuka tiba. Hidangan khas di masjid ini adalah sajian bubur pedas khas masjid Raya Al Mashun.
BAB 3
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
Masjid Raya Al Mashun atau Masjid Raya Medan atau kadang juga disebut Masjid Raya Deli, merupakan salah satu dari dua masjid yang pernah menjadi Masjid resmi kesultanan Deli pada masa jayanya. Masjid Raya Al Mashun juga merupakan masjid tertua ke tiga di kota Medan setelah Masjid Al Osmani di Labuan Deli yang juga merupakan masjid kesultanan Deli yang pertama dan Masjid Lama Gang Bengkok di Jalan Masjid Kesawan. Al-Mashun yang berarti ‘dipelihara’, sesuai namanya hingga kini masih terpelihara dan terawat dengan baik. Secara umum bangunan Masjid Al-Mashun dipengaruhi oleh arsitektur Eropa, Moghul, dan Timur Tengah. 


3.2 SARAN   
Masjid Raya Al Mashun adalah salah satu masjid yang sangat megah di Kota Medan, kami berharap agar bangunan Masjid Raya Al Mashun tetap terjaga dengan baik. Dan hendaknya masyakarat turut andil dalam menjaga bangunan masjid tersebut seperti tidak melakukan 7 hal yang dilarang yaitu dilarang masuk bagi segala jenis kendaraan, dilarang memakai alas kaki, dilarang berjualan di dalam kompleks, dilarang bermain segala jenis olahraga, dilarang meludah di atas lantai, dilarang membuang sampah sembarangan, dan dilarang merokok.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar