BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Sebagaimana yang telah kita ketahui,
bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang paling banyak mayoritas nya beragama
Islam. Banyak sekali bangunan atau tempat Ibadah (Masjid) umat Muslim di
Indonesia salah satu nya Masjid Raya Al-mashun. Masjid Raya Al-Mashun ini
terletak di Provinsi Sumatera Utara tepat nya di Kota Medan. Masjid Raya
Al-Mashun merupakan salah satu masjid yang di bangun berdekatan dengan Istana
Kesultanan Deli atau Istana Mai Moon. Selain sebagai bukti sejarah, masjid ini
juga sering di kunjungi oleh para wisatawan. Arsitektur nya yang megah dan
anggun membuat masjid ini terlihat megah di mata para pengunjung.
Ukiran-ukiran nya yang sangat bagus menjadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung
dan membuat masjid ini terlihat megah.
B. Rumusan
Masalah
Dari uraian Latar
Belakang Masalah di atas, maka timbul permasalahan sebagai berkut:
1.Bagaimana sejarah dan perkembangan masjid raya al-mashun?
2. Apa saja arsitektur yang ada dalam masjid al-mashun?
3. Bagaimana cerita tentang masjid al-mashun?
1.Bagaimana sejarah dan perkembangan masjid raya al-mashun?
2. Apa saja arsitektur yang ada dalam masjid al-mashun?
3. Bagaimana cerita tentang masjid al-mashun?
C. Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah dan perkembangan masjid raya al-mashun
2. Untuk mengetahui arsitektur masjid raya al-mashun
3. Untuk mengetahui cerita masjid al-mashun
1. Untuk mengetahui sejarah dan perkembangan masjid raya al-mashun
2. Untuk mengetahui arsitektur masjid raya al-mashun
3. Untuk mengetahui cerita masjid al-mashun
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah Dan Perkembangan Masjid Raya Al –Mashun
Di tahun 1728 Tuanku Panglima
Pasutan memindahkan pusat kerajaan dari Padang Datar,ke Kampung Alai (Labuhan Deli) Tercatat enam Sultan Deli yang
pernah bertahta di Istana Kerajaan Melayu Deli di Labuhan Deli, sejak dari Sultan Deli ke 4 hingga
Sultan Deli ke-9. Masjid Al Osmani yang merupakan masjid Kesultanan bagi Kesultanan Deli
dibangun sejak masa pemerintahan Sultan Osman Perkasa Alam (Sultan ke-8) masih
berdiri kokoh hingga kini menjadi saksi sejarah kesultanan Melayu Deli. Sultan Ma’mum
Al Rasyid Perkasa Alam (Sultan
Deli ke-9) kemudian
memindahkan kembali ibukota kerajaan ke daerah Padang Datar (pusat kota medan). Pemindahan
kembali ibukota kerajaan terebut dilakukan setelah Kerajaan Melayu di
Labuhan Deli dikuasai Belanda, ketika Sultan Mahmud Perkasa Alam (sultan Deli ke-8) terpaksa
memberikan sebagian daerahnya menjadi tanah konsesi kepada penjajah Belanda pada tahun 1863 untuk
ditanami tembakau Deli. Di ibukota pemerintahan baru ini Kesultanan
Deli berkembang pesat,
setelah Deli lepas sama sekali dari Kesultanan Aceh dan Kesultanan Siak Sri
Indrapura pada 1861. Meski masih
dalam bayang-bayang pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sultan Ma’mum Al
Rasyid Perkasa Alam kemudian
membangun Istana Maimun pada 26 Agustus 1888 dan selesai 18 Mei 1891.
Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam memulai pembangunan Masjid Raya Al
Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September
1909 (25 Sya‘ban 1329 H) sekaligus
digunakan ditandai dengan pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini.
keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Sultan memang
sengaja membangun mesjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya
hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan masjid ini
ditanggung sendiri oleh Sultan, namun konon Tjong A Fie, tokoh kota medan dari
etnis Thionghoa yang sejaman dengan Sultan Ma’mun Al Rasyd turut berkontribusi
mendanai pembangunan masjid ini.
Pada awalnya Masjid Raya Al Mashun di rancang oleh Arsitek
Belanda Van Erp yang juga merancang istana Maimun, namun kemudian proses-nya
dikerjakan oleh JA Tingdeman. Van Erp ketika itu dipanggil ke pulau Jawa oleh pemerintah
Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi candi Borobudur di Jawa
Tengah. Sebagian bahan bangunan diimpor antara lain: marmer untuk
dekorasi diimpor dari Italia, Jerman dan kaca patri dari Cina dan lampu gantung langsung dari
Prancis.
Mesjid Raya sedikit berbeda dengan
masjid pada umumnya karana tidak banyak kaligrafi sini namun banyak terdapat
ukiran bunga dan tanaman yang keseluruhanya di cat. Masjid Raya Al Mashun atau Masjid Raya Medan atau kadang
juga disebut Masjid Raya Deli, merupakan salah satu dari dua masjid yang pernah
menjadi Masjid resmi kesultanan Deli pada masa jayanya. Masjid Raya Al Mashun
juga merupakan masjid tertua ke tiga di kota Medan setelah Masjid Al Osmani di Labuan Deli yang juga merupakan masjid kesultanan Deli
yang pertama dan Masjid Lama Gang Bengkok di Jalan Masjid Kesawan. Al-Mashun yang
berarti ‘dipelihara’, sesuai namanya hingga kini masih terpelihara dan terawat
dengan baik. Tidak heran, karena masjid ini di masa silam merupakan Masjid
Negara pada masa jayanya Kesultanan Melayu Deli, lokasinya berdiri hanya terpaut sekitar 200 meter dari
Istana Maimun yang merupakan Istana kesultanan Deli.
Masjid yang menjadi identitas kota Medan ini, memang bukan sekedar
bangunan antik bersejarah saja, tetapi juga menyimpan keunikan tersendiri mulai
dari gaya arsitektur, bentuk bangunan, kubah, menara, pilar utama, hingga
ornamen-ornamen kaligrafi yang menghiasi bangunan masjid ini. Masjid raya
al-mashun Medan ini banyak di kagumi orang karena bentuk nya yang unik. Dan
masjid raya al-mashun ini merupakan masjid termegah di kota Medan.
2.2
Arsitektur Masjid Raya Al-Mashun
JA Tingdeman, sang arsitek merancang
masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa dan Melayu dan Timur Tengah.
Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak
seperti masjid masjid kebanyakan. Di ke empat penjuru masjid masing masing
diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama
di atap bangunan utama masjid. Masing masing beranda dilengkapi dengan pintu
utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang
ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.
Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang
utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara. Ruang utama, tempat sholat,
berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil,
terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar.
Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan
kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan art nouveau periode
1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam. Seluruh ornamentasi di dalam
mesjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya
dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan. di depan masing-masing beranda
terdapat tangga. Kemudian, segi delapan tadi, pada bagian luarnya tampil dengan
empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang sholat utama.
Gang-gang ini punya deretan
jendela-jendela tak berdaun yang berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri
di atas balok. Baik beranda dan jendela-jendela lengkung itu mengingatkan
disain bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan.
Sedangkan kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah
bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas masing-masing
beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk kubahnya mengingatkan kita pada
Mesjid Raya Banda Aceh. Di bagian
dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang
tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun mihrab terbuat
dari marmer dengan atap kubah runcing. Gerbang mesjid ini berbentuk bujur
sangkar beratap datar. Sedangkan menara mesjid berhias paduan antara Mesir,
Iran dan Arab.
2.3 Cerita Masjid Al-Mashun
Ada
satu tradisi lisan yang menyebutkan bahwa Sultan Delhi biasanya sudah berada di
ruangan serambi sebelum salat jum’at di mulai, sementara tidak ada satupun
orang yang melihat Sultan Delhi masuk ke dalam masjid dari arah luar, sehingga
ada dugaan yang menyebutkan bahwa di ruangan serambi terdapat sebuah
jalan menuju terowongan menghubungkan mesjid Raya Al-Mashun ke Istana Maimoon. Hal
menarik yang harus di kaji kebenaran nya yaitu di ruangan serambi terdapat
sebuah lubang berbentuk persegi yang di beri penutup yang terbuat dari beton.
Beberapa orang menyebutkan bahwa lubang itu dulunya adalah jalan masuk menuju
terowongan bawah tanah yang masih menjadi misteri keberadaa nya. Sampai
saat ini belum ada yang meneliti lebih dalam lagi mengenai sebuah lubang yang
berada di Masjid Al-Mashun ini, Hal ini karena izin untuk meneliti lubang itu
sulit di dapatkan karena ada kemungkinan bahwa Masjid Al-Mashun ini dilindungi
oleh situs bersejarah.
Secara tradisi turun temurun
keluarga Sultan sangat berperan dalam pengelolaan masjid ini. Sejak era
kemerdekaan, pemerintah kota Medan mengambil andil dalam perawatan dan
pengelolaan masjid. Pengurus masjid sangat ketat menjaga masjid ini termasuk
menjaga keaslian bangunan dengan tidak sembarangan melakukan perbaikan apalagi
perombakan mengingat material yang dipakai untuk membangun masjid ini memang
dari bahan bahan pilihan yang kini tidak mudah untuk didapatkan.
Pada bulan Ramadhan, suasana di Masjid Raya ini menjadi
jauh lebih semarak dibanding hari-hari biasa. Kegiatan ibadah tidak hanya
berlangsung siang hari, melainkan juga malam hari hingga menjelang waktu sahur.
Siang disisi dengan kegiatan muzakarah, diskusi tentang
hukum sya’ri Islam, ceramah Ramadhan, dan berbagai kegiatan pengkajian Islam
lainnya. Pada malam hari kegiatannya berupa shalat Tarawih dan Tadarrus
Al-Qur’an hingga larut malam hingga sampai dini hari saat sahur tiba. Selain
itu, untuk menghidupkan suasana di komplek masjid,
pengurus juga menyiapkan makanan bukaan setiap sore dari sumbangan para
dermawan dan masyarakat sekitar masjid. Makanan berbuka yang disiapkan hingga
300 - 500 orang tersebut khusus bagi anak-anak yatim, gelandangan, dan kaum
musafir yang jauh dari rumahnya saat waktu berbuka tiba. Hidangan
khas di masjid ini adalah sajian bubur pedas khas masjid Raya Al Mashun.
BAB
3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Masjid Raya Al Mashun atau Masjid Raya Medan atau kadang
juga disebut Masjid Raya Deli, merupakan salah satu dari dua masjid yang pernah
menjadi Masjid resmi kesultanan Deli pada masa jayanya. Masjid Raya Al Mashun
juga merupakan masjid tertua ke tiga di kota Medan setelah Masjid Al Osmani di Labuan Deli yang juga merupakan masjid kesultanan Deli
yang pertama dan Masjid Lama Gang Bengkok di Jalan Masjid Kesawan. Al-Mashun yang
berarti ‘dipelihara’, sesuai namanya hingga kini masih terpelihara dan terawat
dengan baik.
Secara umum bangunan Masjid Al-Mashun dipengaruhi oleh arsitektur Eropa,
Moghul, dan Timur Tengah.
3.2
SARAN
Masjid Raya Al Mashun
adalah salah satu masjid yang sangat megah di Kota Medan, kami berharap agar
bangunan Masjid Raya Al Mashun tetap terjaga dengan baik. Dan hendaknya
masyakarat turut andil dalam menjaga bangunan masjid tersebut seperti tidak
melakukan 7 hal yang dilarang yaitu dilarang masuk bagi segala jenis kendaraan,
dilarang memakai alas kaki, dilarang berjualan di dalam kompleks, dilarang
bermain segala jenis olahraga, dilarang meludah di atas lantai, dilarang
membuang sampah sembarangan, dan dilarang merokok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar